Thursday, September 15, 2011

kalau boleh aku bilang aku gila, aku rasa ya. tapi malam ini belum mapan rasanya, untuk menerima semua kejanggalan-kejanggalan umum yang berdebat lebat dalam hatiku. si janggal pertama bilang kalau dia tidak janggal, aku rasa, bagaimana bisa? si janggal kedua mengakui kalau dia janggal, tapi apa janggal yang menyadari bahwa dirinya janggal masih pantas dianggap janggal? lalu janggal ketiga bilang, kalian berdua memang tidak kurang janggal, sebenarnya. tapi janggal bukan berarti istimewa, karena kalau istimewa itu majemuk, bersaudara dan berkawan, maka istimewa itu harus hilang, harus pergi tahtanya. tapi aku, aku si janggal yang bukan hanya tidak kurang janggal, tapi juga tidak kurang istimewa, karena aku anak terakhir, anak yang lahir tanpa direncana, atau penghancur keluarga berencana. (tunggu, kamu tahu kan ke mana arah ceritaku?) begitu janggal yang sebenarnya lahir, janggal-janggal lain harus mau, harus lalu dipanggil normal, mulai hari ini hingga hidup-hidup yang akan mereka hidupi seterusnya.

janggal satu dan janggal dua tidak tahu mau bilang apa; susunan kata yang telah rapi berbaris buat memanjat liang tenggorokan mereka sudah mati satu-satu, dua-dua, perih menguap dibawa angin liar.

No comments:

Post a Comment