Saturday, October 24, 2009

Tolong, yang mempunyai tangan besar, tampar saya.

Ketika anda membaca tulisan ini, entah sudah berapa kali saya menekan tombol backspace. Dan mungkin saya juga menekan tombol CTRL + A sebelumnya, sehingga semua hal yang saya coba tulis hilang dalam hitungan sepersekian detik. Entah apa jadinya tulisan saya, jika tombol backspace tidak tersedia, seperti yang terjadi beberapa dekade sebelumnya dengan mesin ketik. Apakah mereka terpaksa mencoretnya dengan tinta yang seadanya, atau akankah mereka rela bersusah payah mengetik kembali semua kata yang rusak karena kesalahan-kesalahan minor yang sebetulnya wajar, namun menimbulkan cacat yang besar pada hati sang penulis?

Saya akui, jika tidak ada komputer jinjing seperti yang saya miliki sekarang ini, saya tidak akan pernah punya kesabaran yang cukup untuk menyelesaikan satu lembar saja tulisan dengan menggunakan mesin ketik. Dan bila fungsi internet tidak pernah ada, saya tidak tahu harus saya kemanakan tulisan-tulisan saya. Mungkin mereka akan membusuk begitu saja di sudut kamar, atau mungkin hanya sebatas di dalam otak saya karena saya terlalu malas untuk meraih sebatang pensil dan mulai menulis. Teknologi telah membuat saya malas dan saya tidak akan pernah menyalahkannya karena membuat saya malas. Kenapa? Saya pun tidak tahu jawabannya. Mau dibilang ada sisi positifnya, mau dibilang tergantung penggunanya, semuanya benar. Tapi tidak juga, salah juga. Jadi lebih baik saya diam saja.

Saya kadang merasa iri kepada orang-orang yang bisa menumpahkan semua yang bergumul dalam hatinya, meledak-ledak dalam otaknya, sementara yang dapat saya lakukan hanyalah membiarkan semua akar pikiran saya mengendap begitu saja. Saya selalu diingatkan bahwa tingkat intelligensia kita tidak pernah terbatas, luas, dan tidak akan pernah habis. Namun untuk menggali dan memaksa mereka keluar tidak pernah mudah. Menulis adalah salah satu cara yang paling nyata, di mana seringkali saya menggunakan bahasa Inggris sebagai media perantara. Namun kadang pun saya merasa rindu menggunakan bahasa sendiri, kalau bisa dengan indah, karena saya tahu saya tidak akan pernah bisa berbahasa dengan benar secara verbal.

Saya percaya semua orang bisa menulis, toh inspirasi tersedia di mana-mana. Yang anda lakukan cukup mencoba menulis dan sisanya akan mengalir sendiri. Namun harus saya akui bahwa tidak semua orang bisa menyelesaikan tulisannya dengan sukses. Sukses menurut artinya sendiri pun terlalu ambigu untuk diucapkan, namun bagi saya yang dibutuhkan seseorang untuk masuk kategori tersebut bukanlah pengakuan dari orang sekitar atau masyarakat luas, namun kepuasan yang didapatkan diri sendiri; yang didapatkan karena berhasil mengeluarkan isi hati dan itulah yang coba saya lakukan sekarang. Kalau ada yang baca, ya Alhamdulillah, kalau tidak, saya tetap tidak merugi sepeser pun karena saya merasa senang telah mengeluarkan isi kepala saya dan berlatih untuk hal yang positif.

Blog ini saya khususkan untuk menulis atau apapun, bisa bahasa Indonesia, bahasa Inggris, atau bahasa Cina kalau saya mampu. Jadi mungkin isinya lebih acak dan berantakan, toh saya tidak bermaksud mempublikasikan blog ini, sama sekali, setidaknya untuk sekarang. Saya punya blog lain yang memang saya khususkan untuk publikasi, http://kindergarchy.blogspot.com. Kenapa blog ini saya tidak buat privat? Loh, suka-suka saya dong, saya kan tidak tahu apa yang akan terjadi dengan blog ini nantinya. Bisa saja malah ini jadi blog utama saya dan yang satunya terbengkalai. Untuk sekarang ini, motivasi saya adalah untuk menggunakan blog ini sabagai wadah isi kepala saya, yang terjujur, kalau saya bilang. Bukankah melelahkan untuk menimbun semuanya hanya di dalam kepala? Meledak pun tidak. Saya harap anda tidak bingung jika menemukan blog ini dengan tiba-tiba, entah itu karena tidak sengaja, atau lainnya. Jika anda berhasil membaca sampai titik habis setelah kalimat ini, saya ingin mengucapkan terima kasih, karena berarti saya tidak sendiri, saya telah berbagi, dan saya mempunyai teman, yaitu anda, siapapun itu, yang bersedia mendengarkan.